Andry Alamsyah Blog

Pengalaman Drama Daftar SMA Negeri di PPDB Jabar 2017

PPDB adalah proses Pendaftaran Peserta Didik Baru yaitu proses seleksi untuk masuk ke SD, SMP, dan SMA Negeri. Proses PPDB di kota Bandung setiap tahun penuh dengan kontroversi, maklum selalu ada saja oknum oknum orang tua / wali calon siswa yang berusaha memasukkan anaknya ke sekolah negeri favorit dengan berbagai macam cara, termasuk meminta bantuan tokoh masyarakat, anggota DPR, TNI, dll. Sistem PPDB online diperkenalkan untuk membuat proses seleksi siswa baru menjadi transparan dan akuntabel. Kenyataannya masih ada saja usaha untuk mengakali sistem, petunjuk teknis, atau aturan perpu / pergub PPDB itu sendiri.  Tahun ini PPDB tingkat SD dan SMP dipegang oleh pemerintah kota / kab., sedangkan PPDB tingkat SMA dipegang oleh pemerintah provinsi.

Akibat perpindahan kepengurusan, maka PPDB SMA kota Bandung mengalami perubahan sistem seleksi secara signifikan dibandingkan tahun lalu, diantaranya adalah perubahan sistem zonasi menjadi insentif jarak, dimana semakin dekat lokasi rumah siswa dengan sekolah maka semakin besar angka insentif ditambahkan ke nilai NEM siswa. Nilai NEM maksimum adalah 400, sedangkan insentif nilainya antara 0 sampai 9. misal jika seorang siswa dengan NEM 350 dan lokasi jarak rumah ke sekolah adalah 1 km, maka skor akhir nilai dia adalah 350 + 9 = 359. Jika nilai skor akhir siswa sama, maka peringkat ditentukan berturut turut berdasarkan nilai NEM Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan terakhir IPA.  Jika nilai NEM tiap mata pelajaran tersebut masih sama, maka selanjutnya peringkat ditentukan berdasarkan besaran insentif jarak yang diterima. Jika masih sama, maka penentuan peringkat terakhir adalah berdasarkan apakah pilihan siswa ke SMA tersebut sebagai pilihan 1 atau pilihan 2, dimana pilihan 1 lebih unggul dari pilihan 2. 

Oh ya PPDB tahun 2017 ini mempunyai dua jalur yaitu pertama jalur akademik sebesar 60 persen, dimana siswa diseleksi berdasarkan skor NEM + Insentif. Yang kedua adalah jalur Non-Akademik sebesar 40 persen, yang terbagi menjadi jalur prestasi 20 persen, jalur rakyat miskin 10 persen, dan jalur MoU 10 persen (konon jalur MoU ini adalah jalur rawan penyelewengan).

Tahun ini anak saya yang besar masuk SMA, sehingga kami mengalami sendiri pengalaman PPDB SMA yang penuh dengan drama, deg degan, sampai makan tidur susah mikirin  daftar peringkat yang secara (hampir) realtime turun begitu ada skor NEM baru yang daftar diatas skor NEM anak saya. Oke saya ceritakan detailnya sebagai berikut:

Pendaftaran PPDB 2017 adalah pada tanggal 3-8 Juli 2017. Domisili kami di kab. Bandung Barat, dan anak saya ingin masuk ke SMA Negeri kota Bandung. Menurut aturan terbaru, maka kami bisa mempunyai pilihan 1 SMA Negeri di kota Bandung dan pilihan 2 harus SMA Negeri paling dekat dengan lokasi rumah, dalam hal ini SMA Negeri di kab. Bandung Barat. Pada saat mendaftar pilihan 2 tidak boleh dikosongin.  Walaupun tidak berminat ambil SMA Negeri dekat rumah, tapi kami wajib mengisinya, sehingga kami ambil pilihan ke 2 sembarang SMA Negeri yang dekat rumah. Oh ya sebagai info kami juga sudah mendaftar ke SMA swasta untuk jaga jaga.

Kami mendaftar pada hari kedua (tgl 4 Juli) melalui jalur akademik. NEM anak saya adalah 354, jadi rata rata nilainya adalah 88.5, menurut kami cukup tinggi tapi tidak terlalu tinggi untuk dianggap sebagai batas aman masuk ke SMA Negeri favorit di Bandung yang persaingannya sangat gila. Jadi kami cukup sadar dan tahu diri untuk memilih SMA Negeri peringkat 3 berdasarkan passing grade tahun lalu. Untuk memasukan SMA Negeri tersebut sebagai pilihan 1, maka  kami mendapatkan bonus insentif 2, sehingga skornya menjadi 356, dan untuk SMA  Negeri pilihan 2 bonus insentif adalah 8, sehingga skor totalnya adalah 362. Pada saat pendaftaran SMA Negeri pilihan 1 mempunyai daya tampung 139 murid untuk jalur akademik, dan anak saya langsung muncul di peringkat 43.

Beberapa hari kemudian posisi masih aman, meskipun turun tapi paling jauh adalah di peringkat 66 berdasarkan skor NEM + Insentif. Satu hari menjelang penutupan pendaftaran drama pertama muncul, yaitu tiba tiba daya tampung SMA Negeri pilihan 1 meningkat dari 139 menjadi 207. Mungkin karena melihat daya tampung meningkat maka pendaftar SMA tersebut menjadi membludak drastis. Pada malam hari anak saya langsung berada di peringkat 109/207 kursi tersebut.

Pada hari terakhir pendaftaran, pada posisi pukul 11 pagi, posisi anak saya sudah turun menjadi 166/207. Pergerakan peringkat yang begitu cepat, membuat saya ga bisa konsentrasi lagi melakukan kegiatan apapun selain mantengin website PPDB  tersebut. Sejam menjelang penutupan akhir  pukul 14:00, posisi anak saya sudah pada posisi 207/207 … saya pun lemas dan pasrah kalo terlempar dari pilihan 1, sehingga kami pun sudah siap siap mental untuk melanjutkan di sekolah swasta, karena bagaimanapun juga kami tidak berencana mengambil SMA pilihan 2. Kondisi mental anak saya pun menjadi kurang baik, karena pada posisi terakhir terdapat kurang lebih 15 anak dengan skor 356, dimana anak saya berada di peringkat bawah karena insentif jarak yang kecil. Saya mulai gusar karena menurut aturan juknis PPDB pengurutan bukan dari insentif dulu, tapi berdasarkan nilai NEM mata pelajaran yang saya sebut diatas. Jadi dari 15 anak skor nilai 356 ini, sebetulnya secara murni NEM anak saya adalah terbaik kedua (354), yang lainnya NEM hanya sekitar 348-353 tapi dengan insentif jarak yang lebih besar. Anak merasa sistem PPDB ini menjadi kurang adil.

Seperti diduga pada saat penutupan, akhirnya nama anak saya terlempar dari SMA pilihan 1. Skor terendah berhenti pada nilai 356. Terdapat 3 anak dari 15 anak skor 356 yang terlempar dari pilihan 1. Kami pun pasrah, kemudian iseng cek nama anak pada SMA pilihan 2, anehnya nama anak saya tidak ada di SMA pilihan 2, karena kalo pun ada di SMA pilihan 2, maka anak saya akan berada di ranking 1 dengan total skor sebesar 362. Hari itu adalah hari sabtu, sedangkan pengumuman resmi konon akan diumumkan pada hari senin tanggal 10 juli.

Kami bimbang apakah harus lanjut swasta atau ambil SMA negeri pilihan 2, kemudian melakukan mutasi sekolah ke SMA Negeri pilihan 1 sesudah 1 semester berjalan (kami baru tahu informasi mengenai prosedur mutasi ini). Tapi karena nama anak tidak ada di SMA negeri pilihan 2, maka kami tidak bisa klaim bahwa dia sudah diterima disana.

Hari minggu berlalu dengan penuh tanda tanya.  Setelah kami berkomunikasi sana sini, kamibanyak mendapatkan kabar bahwa banyak nama siswa yang hilang sesudah tidak lolos di pilihan 1, tapi tidak muncul pada daftar siswa yang diterima di pilihan 2.

Hari senin pagi, kami meluncur ke Dinas Pendidikan (disdik) pemprov Jabar sebagai operator PPDB untuk menanyakan hal tersebut. Diluar dugaan ada sekitar 250 orang tua siswa disana yang mengalami hal yang sama dengan kami, bahkan lebih parah yaitu nama anak mereka berada diatas NEM terendah / passing grade SMA tapi namanya ilang. Sehingga muncul dugaan kecurangan, penyelewengan dan lain lain. Disdik berkilah ini adalah kesalahan sistem, dan kami diminta bersabar untuk menunggu pengumuman resmi pada pukul 14:00 hari itu. 

Pukul 14:00 lewat dan tidak ada perkembangan apa apa. Sementara di website PPDB masih tertulis peringkat sementara (belum final). Beberapa SMA seperti SMA 2,3,15 dll sudah tidak bisa bersabar (atau mungkin kurang koordinasi dengan disdik), sehingga mereka mengumumkan penerimaan berdasarkan daftar sementara pukul 14:00 tersebut. 

Orang tua yang sedang berkumpul di kantor disdik pun jadi marah, dan mereka berorasi dan diterima perwakilan disdik, tapi bukan kadisdiknya sehingga mereka tidak bisa menjawab tuntas pertanyaan para orang tua yang sedang emosional. Akhirnya disdik pun secara resmi memundurkan pengumuman penerimaan menjadi pukul 23:30 malam itu. Padahal beberapa SMA sudah mengumumkan hasil final… kacau khan ? ..

Orang tua menuntut surat dari disdik yang menyatakan bila sampai keputusan final pukul 23:30, nama anak mereka tidak ada di daftar penerimaan, maka bila NEM diatas passing grade SMA, maka anak tersebut harus diterima di SMA yang bersangkutan. Untuk mendapatkan surat tersebut sungguh tidak mudah. Kami mengepung kantor kadisdik sampai 18:00 petang. Sampai akhirnya perwakilan demonstran diterima oleh kadisdik, kebetulan saya adalah salah satu perwakilan orang tua yang diterima oleh kadisdik. Kadisdik pun setuju membuat surat edaran dengan isi seperti yang diminta diatas. Orang tua murid  pun bubar sesudah ada kepastian mengenai surat edaran dan harap harap cemas menunggu pengumuman pukul 23:30 malam itu.

Pukul 23:00 malam, tiba tiba daftar penerimaan online berubah, nama anak saya muncul kembali di SMA pilihan 1, peringkat 203/207. Dengan passing grade terendah tetap sebesar 356, maka saya terheran heran kenapa peringkat anak saya berubah (walaupun senang). Ternyata pengurutannya bukan lagi berdasarkan insentif jarak, tapi betul sesuai peringkat nilai NEM sesuai juknis, sehingga dari 15 anak yang mempunyai skor 356 yang terlempar tetap 3 anak. Wah, saya langsung menduga pasti akan terjadi kekacauan karena bagi yang sudah merasa diterima berdasarkan pengumuman pukul 14:00 tetapi namanya hilang di pengumuman pukul 23:30 maka mereka pasti akan protes keras karena surat penerimaan sudah mereka terima. 

Ini adalah salah satu contoh sistem yang sangat chaos, yang berjudi dengan masa depan anak, sungguh keterlaluan pemerintah memaksakan sistem yang belum teruji dan sumber daya yang tidak kompeten untuk menanggani masalah kritis seperti penerimaan siswa baru. Seperti yang saya duga, keesokan harinya saya datang ke sekolah pilihan 1, bapak kepsek bercerita tentang bagaimana kacaunya di sekolah lain, Ada sekolah yang 50-80 siswa sudah diterima ternyata ga jadi diterima, karena perubahan penentuan peringkat, sehingga nama mereka tergeser keluar. 

Alhamdulilah anak saya diteirma di SMA pilihan 1 yang merupakan SMA yang dia inginkan, akan tetapi saya sangat prihatin dengan nasib anak anak lain terlempar pada saat akhir karena sistem tidak memberikan informasi yang akurat dan transparan.

Demikian cerita tentang pengalaman PPDB SMA Bandung yang penuh drama. Sebagai pelajaran kalau tidak mau ribet seperti yang saya alami, maka sebaiknya sih masuk SMA Swasta, banyak sekali SMA Swasta yang keren di kota Bandung sebetulnya.

Screen Shot 2017 07 15 at 2 08 58 PM

 

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: